Rabu, 04 November 2009

KUMIS KUCING ........... PERONTOK BATU GINJAL


Tuntutan hidup yang serba cepat terkadang membawa kita pada gaya hidup yang kurang baik serta pentingnya untuk menjaga kesehatan kita. Duduk di depan komputer dalam jangka waktu yang lama, jarang minum dan jarang bergerak adalah salah satu penyebabnya. Meminum air yang cukup adalah keharusan untuk mengatasi kekurangan cairan yang habis karena aktifitas kita sehari-hari. Dengan sedikitnya 2,5 liter air perhari maka kinerja ginjal berjalan dengan normal dalam proses metabolisme dalam tubuh yang mengeluarkan racun melalui air seni. 


Kurangnya pasokan air bersih menjadikan ginjal kekurangan cairan, sehingga ia menyerap air dari darah. Zat-zat yang seharusnya tak diserap, masuk ke ginjal dan membentuk pengendapan batu kristal yang menghalangi pembuangan racun dari dalam tubuh. Batu-batu tersebut antara lain batu oksalat, batu urat dan batu cysteine.
Batu-batu tersebut dapat mengakibatkan kencing berdarah, susah kencing dan gagal ginjal yang bisa mengakibatkan kematian. Di Indonesia terdapat sekitar 50.000 pasien gagal ginjal, dan hanya 4.000 orang yang melakukan cuci darah. Hal ini dikarenakan cuci darah yang cukup mahal dan harus dilakukan secara berkala setiap beberapa hari sekali. 

Kumis Kucing telah lama dipakai sebagai peluruh batu urin dan batu ginjal. Kumis kucing bersifat anti radang dan memperlancar air seni. Kandungan ortosifonin dan garam kalium (terutama pada daunnya), merupakan komponen utama yang membantu larutnya asam urat, fosfat, dan oksalat dalam tubuh manusia, terutama dalam kandung kemih, empedu serta ginjal, sehingga dapat mencegah terjadinya endapan batu ginjal. Kalium pada kumis kucing berkhasiat diuretik (memperlancar buang air kecil) dan pelarut batu saluran kencing, sedangkan sinensetin berkhasiat antibakteri. Kandungan saponin dan tanin pada daun itu juga bisa mengobati keputihan.
Tanaman Kumis Kucing (Orthosipon aristatus BI. Miq.) diduga berasal dari daerah Afrika Tropik, kemudian menyebar ke wilayah Georgia (Kaukasus), Kuba, Asia, dan Australia Tropik. Lebih lanjut penyebaran Kumis Kucing di Asia meliputi, Indonesia, India, Malaysia, Vietnam, dan Thailand. Tanaman ini juga memiliki beberapa nama daerah. Di daerah Sunda misalnya, kumis kucing dikenal dengan sebutan Jokot Singkir. Di Jawa, kumis kucing disebut Remujung. Dalam bahasa Inggris, kumis kucing disebut sebagai Java Tea, Kidney Tea Plants.

Kumis Kucing adalah salah satu komoditas fitofarmaka yang sudah diperdagangkan skala internasional menjadi komoditi Ekspor. Sedangkan di Indonesia, kumis kucing banyak digunakan sebagai bahan baku jamu.
Budidaya tanaman ini cukup mudah, perlu diperhatikan bahwa Kumis Kucing tumbuh dengan baik di daerah dengan curah hujan lebih dari 3.000 mm/tahun. Bila di daerah dengan curah hujan kurang dari 1.000 mm/tahun, maka Kumis Kucing akan tumbuh kerdil, layu, dan kering. Dan ia membutuhkan temperatur udara 20-30 derajat Celcius ditempat terbuka tanpa naungan agar tidak mengurangi bahan aktifnya. Ketinggian idealnya berkisar antara 500-1.200 meter di atas permukaan laut. (Dari berbagai sumber – Red)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar